Pengembangan bioteknologi tentang stem cell atau sel punca telah lama diketahui dan diteliti penggunaannya dalam bidang medis, begitu juga dengan minat terhadap stem cell atau sel punca telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir di dunia, termasuk di Indonesia. Hal ini karena potensi dari sel punca tersebut yang dapat mengobati berbagai macam penyakit.
Dalam penelitian sel punca telah
terbukti dalam mengobati penyakit jantung, diabetes mellitus, alzheimer,
parkinson, kanker, berbagai penyakit darah dan AIDS.
Teknologi ini merupakan kemajuan
yang akan menjadi terobosan baru dalam pengobatan, misalnya apabila sel saraf
putus maka dengan stem cell kondisi itu dapat diperbaiki. Juga apabila
seseorang menderita luka bakar yang sangat parah dapat sembuh cepat dengan
memanfaatkan teknologi ini. Selain itu juga dalam penelitian yang berbeda sel
punca manusia telah terbukti dapat mengatasi kebutaan pada tikus.
Stem cell atau sel punca sendiri ialah sel induk dari semua sel dalam tubuh
yang belum terspesialisasi yang memiliki dua sifat, yaitu kemampuannya untuk
berdiferensiasi menjadi sel lain dan kemampuannya untuk meregenerasi dirinya
sendiri.
Jika ditinjau dari
asalnya maka stem cell dapat dibagi dalam stem cell embrio dan stem
cell bukan embrio. Sedangkan stem cell sesuai potensinya untuk
berkembang lebih lanjut dapat dibagi dalam sel totipoten, pluripoten, dan
multipoten. Aspek bioetika penggunaan berbagai jenis sel tersebut juga berbeda.
Banyak harapan yang
timbul dari penelitian stem cell embrio, karena sel itu mempunyai
potensi untuk berkembang menjadi berbagai jenis sel yang menyusun berbagai
jenis organ tubuh. Sel yang juga disebut stem cell totipoten (SCT) itu,
ditemukan pada jaringan embrio dan pada jaringan tertentu makhluk dewasa,
seperti sumsum tulang merah dan sel kelamin. Manfaat yang diperoleh dari
penggunaan SCT dalam bidang kedokteran amat besar, namun sumber SCT tersebut
merupakan suatu masalah etika yang perlu mendapat perhatian, karena SCT terbaik
diperoleh dari inner cell mass dari blastosis.
Blastosis adalah embrio yang
berkembang setelah sekitar 5 hari pasca fertilisasi (pembuahan). Pada saat itu,
embrio tersebut telah berkembang dari sel tunggal menjadi bola sel kosong,
dengan ‘gumpalan’ sel pada rongganya. Dalam proses pemanenan stem cell,
terjadi kerusakan pada embrio yang menyebabkan embrio tersebut akan mati.
Di negara-negara yang membolehkan melakukan praktik bayi
tabung, embrio yang sudah tidak dipakai setelah proses bayi tabung selesai
dapat digunakan sebagai sumber stem cell, karena pada proses bayi tabung
biasanya diperoleh blastosis yang melebihi keperluan. Blastosis yang berlebihan
itu dapat disimpan beku (deepfreeze) atau dibuang. Sebagian ilmuwan
berpendapat ketimbang sisa blastosis dibuang lebih baik dipakai sebagai sumber
SCT. Namun sebagian lain berpendapat bahwa walaupun tujuan memperoleh SCT baik,
dalam proses perolehannya terjadi pemusnahan embrio manusia. Ada pula yang
berpendapat bahwa jika kegiatan pengambilan SCT dari embrio diizinkan, hal itu
akan membuka jalan ke arah hal yang bertentangan dengan kemanusiaan seperti
‘peternakan embrio’ (embryo farms), pengklonan bayi, penggunaan janin
untuk ‘suku cadang’, dan komersialisasi kehidupan manusia.
Nature advance online publication pada tanggal 23 Agustus 2006 memuat laporan Klimanskaya dkk.
(2006) yang memberi secercah harapan kepada para peneliti stem cell.
Mereka menulis tentang pembuatan galur stem cell yang berasal dari salah
satu sel blastosis stadium 8 sel. Sel punca dapat diekstraksi tanpa mematikan
embrio tersebut, karena embrio memiliki 8 sel yang tergolong dalam inner
cell mass. Kultur sel punca dapat dilakukan hanya dengan satu sel saja,
yang kemudian apabila sel telah berhasil di kultur, sel dapat dikembalikan ke
embrio tersebut. Maka blastosis yang tinggal 7 sel kemudian ditanam ke dalam
rahim agar dapat berkembang normal. Namun kesulitan cara ini adalah tenggang
waktu antara pengambilan sel dan hasil uji menjadi lebih lama dan dapat
mempengaruhi keberhasilan penanaman blastosis.
Kemudian alternatif
lain dari sumber stem cell ialah stem cell dari darah tali pusat (umbilical
cord blood stem cell) yang sekarang lebih dikembangkan di dunia kedokteran.
Darah tali pusat termasuk stem cell dewasa. Selain dari
darah tali pusat, stem cell dewasa bisa didapat dari sumsum tulang dan
darah tepi. Hanya saja, pengambilan stem cell dari darah tali pusat
lebih disukai, karena berisiko lebih kecil dan tidak menyakiti penderita.
Selain itu, stem cell dari darah tali pusat mempunyai kemampuan
proliferasi (pertumbuhan dan pertambahan sel) yang tinggi. Tingkat kecocokan
pencangkokan stem cell darah tali pusat juga lebih baik dibandingkan
dengan stem cell yang berasal dari sumsum tulang, karena transplantasi cord
blood tidak memerlukan tingkat kecocokan 100%, dan secara etis tentu tidak
masalah. Selain itu, yang dapat memanfaatkan stem cell tersebut tidak
hanya pemiliknya, tetapi juga bisa digunakan oleh saudara kandung dan orang
tua, asalkan mempunyai kecocokan dalam struktur gen dan golongan darah.
Adapun penelitian baru-baru ini menemukan
bahwa darah menstruasi kaya akan sel punca, yang berpotensi menjadi pengobatan
berbagai penyakit. Darah yang keluar sebagai darah menstruasi mengandung
beberapa variasi sel yang di antaranya memiliki sifat regeneratif. Namun
penelitian ini masih harus terus dikaji kelayakannya agar darah menstruasi juga
dapat dipastikan menjadi sumber stem cell lain yang aman penggunaannya
dimasa depan berdasarkan kesehatannya karena darah menstruasi merupakan darah
penyakit, juga berdasarkan bioetikanya yang secara Islam darah menstruasi
dianggap najis.
Dikirim untuk redaksi koran radar
karawang, oleh:
Sarah Hanifa Purnomo
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar